10 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Mulai Menulis Buku

10 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Mulai Menulis Buku

Menulis buku merupakan keputusan yang melibatkan lebih dari sekadar keinginan untuk menghasilkan sebuah karya. Prosesnya membutuhkan waktu, ketekunan, penguasaan materi, kemampuan mengorganisasi gagasan, serta kesediaan untuk memperbaiki tulisan berkali-kali. Bagi sebagian orang, buku menjadi sarana berbagi pengetahuan. Bagi yang lain, buku merupakan cara mendokumentasikan pengalaman profesional, menyampaikan pemikiran, membangun reputasi, atau mengembangkan kontribusi intelektual dalam bidang tertentu.

Apa pun tujuannya, ada satu persoalan yang sering terlewat: sebelum mulai menulis, calon penulis perlu memastikan bahwa gagasannya memang layak dikembangkan menjadi buku dan bahwa proyek tersebut dapat dikerjakan secara realistis. Ide yang menarik belum tentu memiliki cakupan yang tepat, pengalaman yang luas belum tentu otomatis menghasilkan narasi yang kuat, dan naskah yang selesai belum tentu sesuai dengan kebutuhan pembaca atau jalur penerbitan yang dipilih.

Panduan proposal buku dari Oxford University Press (OUP) menekankan pentingnya menjelaskan tujuan, cakupan, kontribusi, pembaca sasaran, struktur, serta hubungan karya yang diusulkan dengan literatur yang telah tersedia. Hal tersebut menunjukkan bahwa persiapan buku bukan hanya persoalan menyiapkan bahan tulisan, melainkan juga memahami posisi dan fungsi karya yang hendak dihasilkan (Oxford University Press, n.d.).

Sebelum mulai menulis, pertimbangkan sepuluh hal berikut agar waktu, tenaga, dan sumber daya yang Anda investasikan memiliki arah yang jelas.

1. Pastikan Anda Memahami Alasan Menulis Buku

Pertanyaan pertama bukan tentang judul atau jumlah halaman, melainkan mengapa Anda ingin menulis buku. Motivasi menentukan cara Anda memandang proses penulisan, menghadapi hambatan, dan menilai keberhasilan karya.

Sebagian orang ingin membagikan keahlian yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun. Sebagian lainnya ingin mengembangkan hasil penelitian menjadi referensi yang dapat digunakan oleh mahasiswa dan praktisi. Ada pula yang ingin merekam pengalaman hidup, mengembangkan gagasan tertentu, atau menghasilkan karya fiksi yang bermakna bagi pembacanya.

Berbagai tujuan tersebut sama-sama sah, tetapi memiliki konsekuensi yang berbeda. Buku akademik menuntut perhatian besar terhadap argumentasi, metode, dan sumber. Buku pengalaman profesional memerlukan seleksi kasus dan refleksi yang relevan. Sementara itu, karya fiksi menuntut pengembangan karakter, konflik, dan struktur naratif yang sesuai dengan genrenya.

Menulis buku hanya karena sedang populer atau karena melihat orang lain menerbitkan buku dapat menjadi motivasi yang rapuh apabila tidak disertai alasan yang lebih substantif. Ketika proses penulisan terasa berat, penulis perlu memahami apa yang membuat proyek itu tetap layak dilanjutkan.

Karena itu, rumuskan tujuan dalam satu pernyataan yang jelas. Tentukan apakah Anda terutama ingin mendokumentasikan pengetahuan, menyelesaikan persoalan pembaca, memberikan kontribusi pada suatu bidang, menyampaikan cerita, atau mencapai beberapa tujuan sekaligus. Kejelasan ini membantu Anda menetapkan prioritas ketika harus memilih materi yang akan dimasukkan atau dihilangkan.

2. Tentukan Siapa yang Akan Membaca Buku Anda

Buku tidak ditulis untuk semua orang dengan cara yang sama. Bahkan ketika sebuah karya berpotensi dibaca oleh khalayak luas, tetap ada kelompok pembaca utama yang perlu dipahami oleh penulis.

Pertimbangkan siapa yang paling membutuhkan buku tersebut. Apakah mereka mahasiswa, dosen, manajer, pengusaha, orang tua, profesional pemula, peneliti, atau pembaca umum? Apa yang telah mereka ketahui? Masalah apa yang mereka hadapi? Seberapa dalam pembahasan yang mereka perlukan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut berpengaruh terhadap bahasa, struktur, ilustrasi, kedalaman materi, dan pilihan istilah. Buku mengenai kepemimpinan untuk mahasiswa tingkat awal, misalnya, membutuhkan pengenalan konsep yang berbeda dari buku dengan tema serupa untuk eksekutif berpengalaman.

Mengenali pembaca bukan berarti membatasi nilai gagasan Anda. Sebaliknya, pemahaman mengenai pembaca membantu menentukan bagaimana gagasan disampaikan agar dapat dipahami dan digunakan.

Hindari merumuskan target pembaca hanya sebagai “masyarakat umum” atau “semua kalangan”. Pernyataan semacam itu terlalu luas untuk membantu pengambilan keputusan editorial. Tentukan kelompok utama terlebih dahulu, kemudian identifikasi kelompok sekunder yang mungkin turut memperoleh manfaat dari buku Anda.

3. Rumuskan Gagasan Utama dan Manfaat Buku

Sebuah buku memerlukan pusat pemikiran yang menyatukan seluruh pembahasannya. Tanpa gagasan utama yang jelas, naskah mudah berkembang menjadi kumpulan informasi, pengalaman, atau pendapat yang tidak memiliki hubungan kuat satu sama lain.

Cobalah menjelaskan gagasan buku dalam satu atau dua kalimat. Anda perlu mampu menjawab apa yang ingin dibahas, mengapa pembahasan tersebut penting, dan apa yang akan diperoleh pembaca setelah menyelesaikan buku.

Misalnya, gagasan “menulis buku tentang manajemen” masih sangat luas. Gagasan tersebut dapat dipertajam menjadi “membantu manajer baru memahami cara mengintegrasikan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian dalam pengambilan keputusan sehari-hari”.

Rumusan kedua memberikan arah yang lebih konkret. Ia mengisyaratkan pembaca yang dituju, ruang lingkup materi, dan manfaat yang hendak dicapai.

Pertimbangkan pula apakah manfaat yang Anda janjikan realistis. Buku dapat membantu pembaca memahami suatu persoalan, memperluas perspektif, mempelajari metode, atau mempertimbangkan pilihan. Namun, penulis sebaiknya menghindari janji berlebihan yang tidak dapat dipenuhi oleh isi buku.

Gagasan utama yang kuat tidak harus sepenuhnya baru dalam sejarah pemikiran. Yang penting, penulis mengetahui fokus karya dan dapat menjelaskan alasan mengapa pembahasan tersebut perlu disusun dalam bentuk buku.

4. Kenali Buku Sejenis dan Tentukan Nilai Pembeda

Sebelum menghabiskan waktu untuk menulis, pelajari buku-buku yang telah membahas topik serupa. Langkah ini bukan untuk mencari alasan agar proyek dibatalkan, melainkan untuk memahami lanskap bacaan dan menemukan posisi yang masuk akal bagi karya Anda.

Bacalah beberapa buku yang relevan. Perhatikan judul, sasaran pembaca, cakupan materi, pendekatan, kekuatan, serta aspek yang belum dibahas secara memadai. Anda juga dapat memeriksa katalog penerbit, perpustakaan, toko buku, dan informasi bibliografis untuk melihat bagaimana sebuah topik telah dikembangkan.

Jane Friedman (2017) menekankan bahwa riset terhadap judul-judul pembanding merupakan bagian penting dalam mempersiapkan proposal buku nonfiksi. Pengetahuan tentang buku sejenis membantu penulis memahami pasar sekaligus menjelaskan mengapa proyek yang diajukan mempunyai relevansi dan keunikan.

Nilai pembeda tidak harus berupa teori yang sepenuhnya baru. Perbedaan dapat muncul melalui konteks Indonesia yang belum banyak dibahas, integrasi beberapa pendekatan, penggunaan data baru, studi kasus yang relevan, pengalaman profesional yang terdokumentasi dengan baik, atau cara menjelaskan materi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pembaca tertentu.

Jangan berhenti pada klaim bahwa buku Anda “berbeda” atau “lebih lengkap”. Jelaskan perbedaannya secara konkret. Apabila buku lain telah memberikan pengantar konseptual, misalnya, karya Anda mungkin berkontribusi melalui analisis kasus dan penerapan yang terstruktur. Jika topik sudah banyak dibahas untuk pembaca umum, Anda dapat mempertimbangkan segmen pembaca atau persoalan yang lebih spesifik.

5. Tentukan Batas Cakupan agar Buku Tidak Kehilangan Fokus

Calon penulis sering menghadapi persoalan bukan karena kekurangan gagasan, melainkan karena mempunyai terlalu banyak hal yang ingin dibahas. Semua ide terasa penting sehingga setiap bab terus bertambah, topik meluas, dan penulis kesulitan menentukan kapan naskah dapat dianggap selesai.

Karena itu, tentukan batas cakupan buku sejak awal. Identifikasi topik inti, topik pendukung, dan hal-hal yang sengaja tidak dibahas. Batasan tersebut tidak harus bersifat permanen, tetapi berfungsi menjaga proporsi pembahasan.

Misalnya, buku tentang literasi keuangan bagi mahasiswa tidak harus membahas seluruh teori ekonomi, sistem perpajakan, investasi profesional, dan kebijakan moneter secara mendalam. Materi tersebut dapat relevan dalam konteks tertentu, tetapi tidak semuanya harus menjadi bagian dari satu buku.

Pertimbangkan juga bentuk karya yang ingin dihasilkan. Buku referensi, buku ajar, buku populer, panduan praktis, kumpulan esai, dan novel mempunyai kebutuhan struktur yang berbeda. Pilihan bentuk akan memengaruhi cara materi disusun, panjang pembahasan, kebutuhan ilustrasi, dan keterlibatan pembaca.

Pada tahap ini, membuat gambaran daftar isi awal dapat membantu Anda menguji kelogisan cakupan. Anda belum harus menulis setiap bab, tetapi perlu mengetahui bagaimana keseluruhan gagasan akan berkembang dan apakah setiap bagian mempunyai fungsi yang dapat dijelaskan.

6. Pastikan Anda Memiliki Dasar Pengetahuan dan Rencana Riset yang Memadai

Penguasaan terhadap topik merupakan modal penting, tetapi tidak selalu berarti bahwa semua bahan untuk menulis buku telah tersedia. Penulis mungkin menguasai praktik profesional, tetapi memerlukan data tambahan untuk membuktikan klaim tertentu. Seorang akademisi mungkin telah melakukan penelitian bertahun-tahun, tetapi tetap harus memperbarui literatur atau memeriksa relevansi temuannya ketika dikembangkan menjadi buku.

Sebelum mulai, identifikasi jenis informasi yang dibutuhkan. Apakah buku memerlukan penelitian pustaka, data empiris, wawancara, observasi, dokumentasi sejarah, studi kasus, atau pengujian materi dalam konteks praktik? Pastikan pula bahwa Anda memiliki akses yang wajar terhadap sumber-sumber tersebut.

Buku berbasis pengetahuan perlu membedakan pengalaman pribadi, interpretasi, dan temuan yang dapat didukung oleh bukti. Pengalaman profesional dapat menjadi bahan yang berharga, tetapi pengalaman individual tidak selalu dapat digeneralisasikan menjadi prinsip yang berlaku untuk semua situasi.

Pertimbangkan pula kebutuhan hak penggunaan materi. Kutipan, gambar, tabel, ilustrasi, dan bahan lain dari pihak ketiga mungkin membutuhkan atribusi, izin, atau pengaturan tertentu. Panduan WIPO mengenai kontrak penerbitan membahas hubungan hak cipta, lisensi, dan kewajiban para pihak dalam proses penerbitan (World Intellectual Property Organization, 2024). Karena itu, persoalan hak sebaiknya dipikirkan sejak perencanaan, bukan hanya ketika naskah hampir selesai.

Riset yang memadai bukan berarti Anda harus mengumpulkan seluruh informasi sebelum mulai menulis. Artinya, Anda mengetahui kebutuhan bukti, memiliki jalur untuk memperoleh bahan yang dibutuhkan, dan bersedia mengubah atau mempersempit gagasan apabila informasi yang ditemukan tidak mendukung rencana awal.

7. Evaluasi Kesiapan, Kompetensi, dan Kebutuhan Kolaborasi

Tidak setiap buku harus ditulis oleh seseorang yang menguasai semua aspek teknis secara mandiri. Namun, penulis perlu memahami kontribusi yang dapat diberikan serta keterbatasan yang masih harus diatasi.

Jika Anda menulis berdasarkan pengalaman profesional, pertimbangkan apakah pengalaman tersebut telah cukup direfleksikan dan dapat disusun menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi pembaca. Jika Anda menulis buku akademik, perhatikan apakah Anda memiliki penguasaan terhadap literatur dan metode yang diperlukan. Jika menulis biografi orang lain, pertimbangkan akses terhadap sumber, ketepatan dokumentasi, dan persetujuan yang relevan.

Ada kalanya proyek membutuhkan kolaborasi dengan peneliti, penelaah substansi, penerjemah, ilustrator, atau penulis pendamping. Keputusan untuk melibatkan pihak lain sebaiknya didasarkan pada kebutuhan karya, bukan semata-mata untuk memperbanyak nama yang tercantum pada sampul.

Kejelasan kontribusi menjadi penting ketika buku ditulis bersama. Sejak awal, sepakati pembagian tanggung jawab, proses pengambilan keputusan, pengelolaan revisi, dan cara menyelesaikan perbedaan pendapat. Untuk buku yang melibatkan banyak kontributor, koordinasi editorial dapat menjadi pekerjaan yang signifikan.

Penulis juga perlu mempertimbangkan kemampuan menerima masukan. Buku merupakan karya intelektual, tetapi pengembangan naskah dapat memerlukan kritik terhadap struktur, ketepatan konsep, dan pilihan penyajian. Kesediaan memperbaiki karya tidak mengurangi kepemilikan intelektual penulis; justru membantu memperjelas kontribusinya.

8. Hitung Ketersediaan Waktu dan Sumber Daya Secara Realistis

Menulis buku merupakan proyek yang memerlukan alokasi waktu, bukan hanya niat. Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, aktivitas akademik, atau kegiatan bisnis dapat memengaruhi konsistensi penulisan. Karena itu, sebelum memulai, periksa waktu yang benar-benar dapat disediakan.

Jangan hanya menghitung durasi untuk mengetik naskah. Proyek buku juga melibatkan riset, penyusunan struktur, pembacaan ulang, revisi, verifikasi informasi, komunikasi dengan kontributor, dan koordinasi dengan penerbit. Setelah naskah selesai, proses editorial serta persiapan produksi juga dapat memerlukan waktu tambahan.

Perkirakan pula kebutuhan biaya. Bergantung pada proyek dan jalur penerbitan, sumber daya dapat dibutuhkan untuk memperoleh data, melakukan perjalanan riset, menggunakan ilustrasi, menerjemahkan materi, atau memenuhi kebutuhan produksi tertentu. Jika ada dukungan institusi atau pendanaan, pastikan ketentuan dan jadwalnya dapat dipenuhi.

Buat target yang realistis berdasarkan kapasitas Anda, bukan berdasarkan gambaran ideal tentang seberapa cepat seorang penulis seharusnya menyelesaikan buku. Jadwal yang terlalu ambisius dapat menghasilkan tekanan yang tidak perlu, sementara rencana yang sama sekali tidak mempunyai tenggat berisiko membuat proyek berlarut-larut.

Pertimbangkan juga kemungkinan perubahan. Jadwal kerja, akses data, kebutuhan revisi, dan kondisi pribadi tidak selalu dapat diprediksi dengan tepat. Perencanaan yang baik menyediakan ruang untuk penyesuaian tanpa kehilangan arah utama.

9. Pilih Jalur Penerbitan dan Format yang Sesuai

Sebelum menulis terlalu jauh, pelajari jalur penerbitan yang tersedia. Secara umum, penulis dapat mempertimbangkan penerbitan melalui penerbit konvensional, layanan penerbitan berbayar, atau penerbitan mandiri (self-publishing). Setiap model memiliki perbedaan dalam pengelolaan editorial, pembiayaan, kendali keputusan, distribusi, dan pembagian tanggung jawab.

Pada penerbitan konvensional, penerbit biasanya menjalankan proses seleksi dan mengelola produksi sesuai perjanjian yang disepakati. Pada layanan penerbitan berbayar, sebagian biaya dapat ditanggung penulis dengan cakupan layanan yang bergantung pada kontrak. Dalam penerbitan mandiri, penulis mempunyai kendali lebih besar atas keputusan penerbitan, tetapi juga perlu mengatur sendiri atau mengontrak pihak lain untuk pekerjaan editorial, desain, produksi, distribusi, dan pemasaran.

Tidak ada satu model yang otomatis paling baik untuk semua orang. Pilihan perlu disesuaikan dengan tujuan buku, kemampuan finansial, kebutuhan pendampingan editorial, target distribusi, dan tingkat kendali yang diinginkan.

Pikirkan pula formatnya. Apakah buku akan lebih tepat sebagai buku cetak, buku elektronik, buku audio, atau kombinasi beberapa format? Pilihan ini dapat dipengaruhi oleh karakter pembaca, kompleksitas materi, kebutuhan visual, serta cara pembaca mengakses informasi. Buku dengan banyak diagram atau latihan tertentu mungkin mempunyai kebutuhan format yang berbeda dari buku esai atau novel.

Jika berencana mengajukan naskah kepada penerbit, periksa persyaratan pengajuan sejak awal. Sebagian penerbit meminta proposal dan contoh bab terlebih dahulu, sementara yang lain mempunyai prosedur yang berbeda. Mengetahui persyaratan tersebut membantu Anda menyiapkan proyek tanpa mengasumsikan bahwa semua penerbit bekerja dengan cara yang sama.

10. Pahami Hak, Ketentuan Kerja Sama, dan Realitas Promosi

Menulis buku bukan akhir dari perjalanan sebuah karya. Penulis juga perlu memahami hubungan antara penerbitan, pengelolaan hak, serta upaya menjangkau pembaca.

Sebelum menyepakati kerja sama penerbitan, pahami ruang lingkup hak yang diberikan, jangka waktu perjanjian, penggunaan format cetak dan digital, pembagian tanggung jawab, mekanisme pelaporan penjualan dan royalti jika berlaku, serta kondisi yang memungkinkan hak tertentu kembali kepada penulis. Rincian dan penerapannya bergantung pada isi perjanjian dan ketentuan hukum yang relevan. WIPO (2024) menyediakan panduan yang membantu penulis dan penerbit memahami aspek hak cipta serta pilihan kontraktual dalam hubungan penerbitan.

Penulis sebaiknya membaca perjanjian secara menyeluruh dan meminta penjelasan terhadap ketentuan yang tidak dipahami sebelum memberikan persetujuan. Jangan mengasumsikan bahwa semua penerbit menawarkan layanan, mekanisme royalti, atau ketentuan hak yang sama.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah pemasaran. Penerbit dapat membantu promosi dan distribusi sesuai dengan model bisnis serta perjanjian yang berlaku, tetapi penulis juga perlu memahami siapa pembaca potensialnya dan bagaimana informasi tentang buku dapat menjangkau mereka. Pengalaman profesional, jaringan akademik, komunitas pembaca, media sosial, diskusi publik, atau kegiatan literasi dapat menjadi bagian dari upaya tersebut apabila sesuai dengan karakter karya.

Hindari membuat rencana berdasarkan asumsi bahwa penerbit akan mengurus seluruh promosi atau bahwa buku pasti menghasilkan penjualan tertentu. Keberhasilan komersial dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk relevansi karya, harga, aksesibilitas, distribusi, persaingan, dan kebutuhan pembaca. Tidak ada strategi yang dapat menjamin hasil penjualan.

Menilai aspek ini sejak awal membantu Anda membedakan tujuan intelektual dari ekspektasi komersial, sekaligus mempersiapkan kerja sama yang lebih realistis dengan pihak-pihak yang terlibat.

Sebelum Memulai, Uji Kesiapan Proyek Anda

Kesepuluh pertimbangan tersebut tidak harus menghasilkan jawaban yang sempurna sebelum Anda mulai menulis. Fungsinya adalah membantu mengenali persoalan penting lebih awal, ketika perubahan ide, cakupan, atau pendekatan masih relatif mudah dilakukan.

Sebagai pemeriksaan awal, pastikan Anda dapat menjelaskan dengan jelas mengapa buku perlu ditulis, siapa pembaca utamanya, apa gagasan dan nilai pembeda yang ditawarkan, bahan apa yang diperlukan, berapa banyak waktu yang realistis tersedia, serta bagaimana Anda akan menangani penerbitan dan hak karya. Jika sejumlah jawaban masih belum jelas, gunakan hal tersebut sebagai agenda persiapan, bukan alasan otomatis untuk membatalkan proyek.

Buku yang baik tidak selalu bermula dari rencana yang sempurna. Banyak proyek berkembang melalui proses membaca, meneliti, menyusun, dan merevisi. Namun, proyek yang mempunyai tujuan jelas dan batas cakupan yang masuk akal biasanya lebih mudah diarahkan ketika penulis menghadapi pilihan sulit.

Persiapan bukan pengganti proses menulis. Persiapan memberi dasar agar proses tersebut dapat dijalankan dengan lebih terarah. Dengan memahami pembaca, kontribusi, kebutuhan sumber daya, serta realitas penerbitan, Anda dapat memulai proyek buku dengan keputusan yang lebih matang dan ekspektasi yang lebih proporsional.

Jelajahi artikel-artikel Penerbit Enigma Group Indonesia tentang buku, penulisan, penerbitan, dan pengembangan literasi untuk memperluas wawasan Anda.

Referensi

Friedman, J. (2017, May 31). 5 research steps before you write your book proposal. Jane Friedman. https://janefriedman.com/5-research-steps-write-book-proposal/

Oxford University Press. (n.d.). Proposal. Oxford Academic. https://academic.oup.com/pages/for-authors/books/the-book-publishing-process/proposal

World Intellectual Property Organization. (2024). Contracts in publishing: A toolkit for authors and publishers. https://www.wipo.int/publications/en/details.jsp?id=4742

Scroll to Top