Kita mungkin pernah merasa lebih memahami seseorang setelah membaca sebuah novel. Tokoh yang pada awalnya tampak egois perlahan memperlihatkan ketakutan yang selama ini disembunyikannya. Seseorang yang terlihat dingin ternyata sedang menghadapi kehilangan. Tokoh lain mengambil keputusan yang sulit dipahami sampai pembaca mengetahui tekanan keluarga, pengalaman masa lalu, dan keterbatasan pilihan yang dihadapinya.
Pengalaman tersebut menunjukkan salah satu kekuatan cerita: pembaca tidak hanya menyaksikan tindakan seseorang, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memahami latar belakang yang membentuk tindakan tersebut. Apa yang semula tampak sederhana menjadi lebih kompleks ketika emosi, keyakinan, konflik, dan pengalaman tokoh mulai terungkap.
Di sinilah membaca cerita berpotensi memperluas empati dan pemahaman sosial. Cerita dapat mengajak pembaca melihat dunia dari perspektif yang berbeda, mempertimbangkan keadaan yang belum diketahui, dan menyadari bahwa perilaku manusia sering kali memiliki lebih dari satu lapisan penjelasan.
Namun, pengaruh ini perlu dipahami secara proporsional. Penelitian psikologi menunjukkan adanya hubungan positif antara membaca fiksi dan sejumlah kemampuan sosial-kognitif, tetapi besarnya pengaruh cenderung kecil dan tidak selalu konsisten pada setiap penelitian. Dengan demikian, cerita bukan sarana otomatis untuk menjadikan seseorang lebih empatik. Manfaatnya bergantung pada berbagai faktor, termasuk karakter cerita, keterlibatan pembaca, serta cara pengalaman membaca tersebut diolah dan dihubungkan dengan kehidupan nyata (Chang, 2026; Wimmer et al., 2024).
Memahami Empati: Lebih dari Sekadar Merasakan Kesedihan
Empati sering dipahami sebagai kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Pemahaman tersebut tidak salah, tetapi belum mencakup keseluruhan konsep. Dalam psikologi, empati dapat dibedakan menjadi dimensi afektif dan kognitif, meskipun batas keduanya tidak selalu sepenuhnya terpisah dalam pengalaman sehari-hari.
Emotional empathy atau empati afektif berkaitan dengan kemampuan merespons keadaan emosional orang lain. Ketika membaca kisah seseorang yang kehilangan orang yang dicintai, pembaca mungkin ikut merasa sedih. Ketika mengikuti cerita tentang keberhasilan setelah perjuangan panjang, pembaca dapat merasakan kegembiraan atau kelegaan.
Sementara itu, cognitive empathy atau empati kognitif berkaitan dengan kemampuan memahami keadaan emosional, pikiran, dan perspektif orang lain. Pembaca mungkin tidak mengalami emosi yang sama dengan tokoh, tetapi dapat memahami mengapa tokoh tersebut merasa takut, marah, atau ragu dalam situasi tertentu.
Keduanya penting. Merasakan kesedihan tanpa memahami penyebabnya belum tentu menghasilkan pemahaman yang mendalam. Sebaliknya, memahami alasan seseorang bersikap tertentu tidak selalu membuat kita ikut merasakan emosinya. Empati yang matang melibatkan kemampuan untuk memperhatikan pengalaman orang lain tanpa kehilangan kemampuan menilai situasi secara jernih.
Membaca cerita dapat menyediakan ruang latihan bagi kedua dimensi tersebut. Pembaca mengikuti pengalaman emosional tokoh sekaligus mencoba memahami keyakinan, motif, dan keadaan yang memengaruhi perilakunya. Namun, respons emosional saat membaca tidak selalu berarti pembaca telah mengembangkan kemampuan empati yang menetap dalam interaksi sehari-hari.
Cerita Mengajak Pembaca Masuk ke Dalam Perspektif Tokoh
Dalam kehidupan nyata, kita sering menilai orang berdasarkan perilaku yang terlihat. Seseorang tidak membalas pesan, misalnya, lalu kita menyimpulkan bahwa ia tidak peduli. Seorang rekan kerja menolak usulan, kemudian dianggap sengaja menghambat pekerjaan. Penilaian seperti itu dapat muncul karena informasi yang tersedia terbatas dan kita cenderung melengkapi kekosongan dengan asumsi sendiri.
Cerita dapat mengganggu kecenderungan tersebut dengan memperlihatkan informasi yang sebelumnya tidak diketahui. Pembaca mungkin mengetahui bahwa tokoh yang tidak membalas pesan sedang merawat anggota keluarga yang sakit atau bahwa rekan kerja yang menolak usulan mempunyai pengalaman buruk terhadap risiko serupa.
Perubahan pemahaman itu tidak berarti bahwa semua tindakan harus dibenarkan. Yang berubah adalah kualitas penilaian: pembaca mempunyai lebih banyak informasi untuk mempertimbangkan keadaan seseorang sebelum menarik kesimpulan.
Kemampuan memahami keadaan mental orang lain berkaitan dengan konsep Theory of Mind (ToM), yakni kemampuan memperkirakan pikiran, keyakinan, keinginan, niat, dan perasaan yang dapat berbeda dari keadaan mental diri sendiri. Dalam narasi, pembaca sering perlu menyimpulkan apa yang diketahui tokoh, apa yang tidak diketahuinya, mengapa ia salah memahami situasi, serta bagaimana keyakinannya memengaruhi keputusan.
Proses ini tidak selalu disajikan secara langsung. Penulis mungkin membiarkan pembaca menafsirkan dialog, mengenali kontradiksi antara ucapan dan tindakan, atau memahami perubahan karakter melalui peristiwa-peristiwa kecil. Pembaca kemudian menyusun gambaran mengenai dunia batin tokoh berdasarkan petunjuk yang tersedia.
Semakin kompleks hubungan antartokoh, semakin besar kemungkinan pembaca menghadapi perbedaan antara niat, persepsi, dan konsekuensi. Cerita semacam ini dapat menjadi kesempatan untuk mempertimbangkan bahwa seseorang tidak selalu bertindak berdasarkan informasi yang sama dengan orang lain.
Mengalami Kehidupan yang Tidak Kita Jalani
Pengalaman manusia dibentuk oleh banyak faktor, termasuk keluarga, budaya, kondisi ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan sosial, dan peristiwa yang pernah dialami. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung dengan individu yang hidup dalam keadaan sangat berbeda dari dirinya.
Cerita dapat memperluas bahan yang digunakan seseorang untuk membayangkan pengalaman tersebut. Novel mengenai kehidupan keluarga di tengah kesulitan ekonomi, misalnya, dapat memperlihatkan bagaimana keputusan sehari-hari dipengaruhi keterbatasan sumber daya. Kisah tentang migrasi dapat menggambarkan kerinduan, perubahan identitas, dan kesulitan beradaptasi. Memoar seseorang yang menghadapi diskriminasi dapat memperlihatkan bagaimana pengalaman berulang membentuk rasa aman dan kepercayaan.
Dalam konteks ini, cerita berfungsi sebagai jendela terhadap pengalaman yang mungkin tidak dikenal pembaca sebelumnya. Akan tetapi, jendela tidak sama dengan keseluruhan dunia. Satu novel tidak dapat mewakili seluruh kelompok masyarakat, dan pengalaman satu tokoh tidak boleh dianggap sebagai gambaran universal mengenai kelompok yang serupa.
Karena itu, membaca cerita dari latar sosial dan budaya yang beragam perlu disertai kesadaran bahwa setiap representasi memiliki batas. Pembaca sebaiknya terbuka terhadap pengalaman tokoh, tetapi tidak buru-buru menggeneralisasi karakter satu individu menjadi karakter suatu masyarakat.
Kegunaan cerita bukan membuat pembaca merasa telah memahami sepenuhnya kehidupan orang lain. Kegunaan yang lebih mendasar adalah memperluas kesadaran bahwa terdapat pengalaman, kendala, dan cara memaknai dunia yang tidak selalu sama dengan pengalaman pribadi.
Mengapa Fiksi Dapat Membantu Kita Memahami Pikiran dan Perasaan?
Cerita fiksi mempunyai karakteristik yang memungkinkan pembaca mengikuti rangkaian pengalaman manusia dalam situasi yang dirancang oleh penulis. Pembaca dapat menyaksikan konflik berkembang, mengikuti pertimbangan tokoh, dan mengetahui konsekuensi dari pilihan yang dibuatnya. Berbeda dari informasi yang hanya menyebutkan suatu peristiwa, narasi dapat memperlihatkan bagaimana peristiwa tersebut dialami dan ditafsirkan oleh orang yang terlibat.
Ketika membaca sebuah cerita, pembaca dapat secara mental mencoba mengikuti sudut pandang tokoh. Mereka memperkirakan alasan di balik keputusan, mempertanyakan apakah informasi yang dimiliki tokoh sudah lengkap, dan memikirkan kemungkinan respons terhadap situasi tertentu. Proses ini berkaitan dengan mentalizing, yaitu upaya memahami atau memperkirakan keadaan mental diri sendiri dan orang lain.
Penelitian awal oleh Kidd dan Castano (2013) melaporkan bahwa membaca karya fiksi sastra dalam sejumlah eksperimen menghasilkan performa yang lebih baik pada beberapa tugas pengukuran Theory of Mind dibandingkan kondisi pembanding tertentu. Temuan tersebut mendorong penelitian lebih lanjut mengenai kemungkinan hubungan antara membaca fiksi dan kemampuan sosial-kognitif.
Meskipun demikian, hasil penelitian selanjutnya tidak seluruhnya mengonfirmasi temuan awal tersebut. Panero et al. (2016), melalui upaya replikasi yang melibatkan tiga kelompok penelitian independen dan 792 partisipan, tidak menemukan keunggulan yang signifikan pada skor salah satu pengukuran Theory of Mind setelah membaca fiksi sastra dibandingkan kondisi pembanding yang diuji.
Perbedaan hasil ini mengingatkan kita bahwa hubungan antara cerita dan empati merupakan persoalan empiris yang tidak dapat disederhanakan menjadi klaim bahwa membaca novel pasti meningkatkan empati. Jenis teks, karakter tugas pengukuran, kondisi eksperimen, dan perbedaan antarpembaca dapat memengaruhi hasil.
Meta-analisis terpreregistrasi oleh Wimmer et al. (2024), yang merangkum 70 eksperimen dalam salah satu analisisnya, menemukan manfaat kognitif rata-rata yang kecil dari membaca fiksi. Pengaruh yang signifikan terutama terlihat pada pengukuran empati dan kemampuan memahami keadaan mental. Pada analisis korelasionalnya, paparan jangka panjang terhadap fiksi cetak juga berkaitan dengan manfaat kognitif yang kecil. Namun, hubungan korelasional tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa membaca merupakan satu-satunya penyebab perbedaan kemampuan tersebut.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan Chang (2026) memberikan gambaran lebih mutakhir. Berdasarkan 21 studi yang memenuhi kriteria tinjauan, 12 di antaranya menyumbangkan data yang cukup untuk meta-analisis. Hasil gabungan menunjukkan keunggulan kecil tetapi signifikan pada sejumlah hasil sosial-kognitif, terutama empati kognitif dan Theory of Mind. Di sisi lain, pengaruh terhadap empati afektif dan perilaku prososial lebih bervariasi serta bergantung pada kondisi tertentu.
Secara keseluruhan, penelitian mendukung kemungkinan bahwa membaca cerita dapat membantu proses memahami pikiran dan perspektif orang lain. Akan tetapi, bukti ilmiah tidak mendukung anggapan bahwa semua jenis cerita, semua pembaca, atau semua aktivitas membaca akan menghasilkan manfaat empati yang sama.
Cerita Membantu Kita Menunda Penilaian yang Terlalu Cepat
Salah satu manfaat potensial dari membaca cerita adalah kesempatan untuk menghadapi karakter yang tidak mudah dikategorikan sebagai sepenuhnya baik atau buruk. Tokoh yang melakukan kesalahan dapat mempunyai alasan yang dapat dipahami, sedangkan tokoh yang tampak baik dapat menyimpan kepentingan pribadi yang rumit.
Kompleksitas semacam ini dapat mendorong pembaca meninjau kembali penilaian awalnya. Pada awal cerita, seorang tokoh mungkin dianggap pengecut karena menghindari konflik. Namun, setelah mengetahui pengalamannya, pembaca dapat memahami bahwa penghindaran tersebut berkaitan dengan ketakutan terhadap kekerasan atau pengalaman traumatis. Pemahaman ini tidak otomatis membenarkan seluruh tindakannya, tetapi memperkaya penjelasan mengenai perilaku tersebut.
Dalam hubungan sosial, kecenderungan menyederhanakan orang lain dapat menyebabkan salah paham. Kita mungkin menganggap seseorang tidak disiplin tanpa mempertimbangkan hambatan yang dihadapinya, atau mengira orang lain sengaja bersikap kasar padahal ia sedang mengalami tekanan emosional.
Cerita memberikan konteks yang sering kali tidak langsung tersedia dalam interaksi singkat. Pembaca dapat mempelajari bahwa perilaku yang terlihat sama mungkin memiliki latar belakang berbeda dan bahwa niat seseorang tidak selalu dapat disimpulkan hanya dari satu tindakan.
Meski demikian, menunda penilaian bukan berarti menghilangkan seluruh pertimbangan moral. Empati dapat membantu memahami alasan seseorang melakukan sesuatu, tetapi tanggung jawab atas dampak tindakan tetap perlu dinilai. Memahami mengapa suatu perilaku terjadi tidak sama dengan menyatakan bahwa perilaku itu benar.
Justru di sinilah empati dan penalaran moral perlu berjalan bersama. Pemahaman terhadap keadaan orang lain memperkaya penilaian, sedangkan pertimbangan etis membantu menentukan bagaimana merespons tindakan tersebut secara tepat.
Membaca Cerita Tidak Otomatis Membuat Seseorang Lebih Empatik
Seseorang dapat menikmati novel yang menggugah emosi tanpa mengubah cara memperlakukan orang lain. Pembaca juga dapat bersimpati kepada tokoh tertentu, tetapi tetap bersikap tidak adil kepada orang yang ditemuinya. Pengalaman membaca dan perilaku sosial bukanlah dua hal yang selalu berjalan seiring.
Salah satu alasannya adalah bahwa pembaca tidak merespons cerita dengan cara yang identik. Ada pembaca yang berusaha memahami motivasi tokoh dan mempertimbangkan berbagai interpretasi. Ada pula pembaca yang hanya mengikuti alur kejadian tanpa banyak memikirkan perspektif karakter. Perbedaan keterlibatan ini dapat memengaruhi apa yang diperoleh dari pengalaman membaca.
Selain itu, cerita dapat memuat stereotip, prasangka, atau penggambaran kelompok yang terlalu sederhana. Apabila representasi tersebut diterima tanpa refleksi, pembaca justru dapat memperkuat asumsi yang telah dimilikinya. Cerita juga dapat membuat pembaca terlalu mengidentifikasi diri dengan tokoh yang dianggap serupa, sementara pengalaman tokoh lain tetap diabaikan.
Karena itu, pengaruh membaca tidak hanya ditentukan oleh isi cerita, tetapi juga oleh bagaimana pembaca berinteraksi dengannya. Kesediaan mempertimbangkan perspektif yang berbeda, mengenali keterbatasan representasi, dan menghubungkan cerita dengan pengalaman nyata dapat membantu memperdalam pembelajaran sosial.
Empati juga memerlukan latihan di luar kegiatan membaca. Mendengarkan orang lain, bertanya sebelum menyimpulkan, mempertimbangkan informasi yang belum diketahui, dan bersedia memperbaiki penilaian merupakan bagian dari praktik sosial yang tidak dapat digantikan oleh buku.
Cara Membaca Cerita agar Pemahaman Sosial Lebih Mendalam
Membaca cerita dengan tujuan memahami pengalaman manusia tidak berarti setiap buku harus dianalisis seperti tugas akademik. Pembaca tetap dapat menikmati alur, karakter, dan bahasa secara spontan. Namun, beberapa pertanyaan reflektif dapat membantu memperkaya pengalaman tersebut.
Ketika mengikuti keputusan seorang tokoh, cobalah membedakan apa yang benar-benar diketahui dari apa yang baru diperkirakan. Tanyakan informasi apa yang dimiliki tokoh, tekanan apa yang sedang dihadapinya, dan pilihan apa yang mungkin tersedia baginya. Langkah ini membantu menghindari penilaian yang hanya bertumpu pada hasil akhir sebuah tindakan.
Selanjutnya, perhatikan perubahan pemahaman Anda sepanjang cerita. Apakah tokoh yang semula dianggap tidak peduli ternyata menghadapi persoalan lain? Apakah informasi baru mengubah interpretasi terhadap konflik? Jika demikian, pertimbangkan mengapa penilaian awal terbentuk dan apa yang membuatnya berubah.
Pembaca juga dapat membandingkan perspektif beberapa tokoh. Dalam sebuah konflik keluarga, misalnya, setiap orang mungkin memiliki kepentingan, ketakutan, dan pemahaman yang berbeda. Membandingkan perspektif tidak berarti menyamakan seluruh tindakan, melainkan mengenali bahwa satu peristiwa dapat dialami dan dimaknai secara berbeda oleh pihak yang terlibat.
Setelah selesai membaca, pembaca dapat menghubungkan tema cerita dengan kehidupan tanpa menganggap fiksi sebagai bukti langsung mengenai perilaku seluruh manusia. Pertanyaan yang berguna bukan hanya apakah tokoh tersebut benar atau salah, melainkan informasi apa yang perlu diketahui sebelum memahami situasi serupa di dunia nyata.
Diskusi buku bersama orang lain juga dapat memperluas interpretasi. Pembaca yang berbeda mungkin menangkap motivasi tokoh yang tidak diperhatikan oleh pembaca lain. Dialog semacam ini menyediakan kesempatan untuk melihat keterbatasan perspektif sendiri dan memahami bagaimana pengalaman serta asumsi memengaruhi penafsiran.
Tujuannya bukan menghasilkan satu interpretasi yang selalu benar, melainkan membangun kebiasaan membaca yang lebih reflektif: bersedia mempertimbangkan kemungkinan lain, memeriksa asumsi, dan membedakan pemahaman terhadap seseorang dari persetujuan atas tindakannya.
Membaca sebagai Latihan Memahami Kemanusiaan
Cerita mempunyai kemampuan untuk membuat pengalaman manusia yang jauh dari kehidupan kita terasa lebih dekat. Melalui perjalanan tokoh, pembaca dapat mengikuti ketakutan, harapan, kehilangan, konflik, dan keputusan yang dibentuk oleh keadaan tertentu. Pengalaman tersebut dapat memperluas cara kita memahami orang lain, terutama ketika cerita mengajak pembaca mempertimbangkan perspektif yang tidak biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, empati bukan hasil yang dapat dijamin hanya dengan menyelesaikan sejumlah buku. Temuan penelitian menunjukkan manfaat sosial-kognitif yang cenderung kecil dan bervariasi, sehingga membaca lebih tepat dipandang sebagai salah satu kesempatan untuk melatih pemahaman sosial daripada sebagai solusi tunggal bagi prasangka atau konflik antarmanusia.
Nilai cerita menjadi lebih besar ketika pengalaman membaca diikuti kesediaan untuk mendengarkan, mempertanyakan asumsi sendiri, dan menerapkan pemahaman tersebut secara proporsional dalam interaksi nyata. Buku dapat memperlihatkan kompleksitas kehidupan, tetapi pembaca tetap perlu membawa keterbukaan itu ke dalam cara mereka memperlakukan orang lain.
Membaca cerita bukan sekadar mengikuti kehidupan tokoh yang diciptakan penulis. Membaca juga memberi kesempatan untuk menyadari bahwa setiap orang yang kita temui mempunyai pengalaman, informasi, dan pergulatan yang mungkin belum kita ketahui. Cerita tidak menjamin kita menjadi lebih empatik, tetapi dapat melatih kita untuk memahami sebelum menghakimi.
Jelajahi artikel-artikel Penerbit Enigma Group Indonesia tentang buku, penulisan, penerbitan, dan pengembangan literasi untuk memperluas wawasan Anda.
Referensi
Chang, L. (2026). Empathy and perspective-taking in literary fiction: A systematic review and meta-analysis of psychological evidence and theoretical insights. Frontiers in Psychology, 17, Article 1865031. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2026.1865031
Kidd, D. C., & Castano, E. (2013). Reading literary fiction improves theory of mind. Science, 342(6156), 377–380. https://doi.org/10.1126/science.1239918
Panero, M. E., Weisberg, D. S., Black, J., Goldstein, T. R., Barnes, J. L., Brownell, H., & Winner, E. (2016). Does reading a single passage of literary fiction really improve theory of mind? An attempt at replication. Journal of Personality and Social Psychology, 111(5), e46–e54. https://doi.org/10.1037/pspa0000064
Wimmer, L., Currie, G., Friend, S., Wittwer, J., & Ferguson, H. J. (2024). Cognitive effects and correlates of reading fiction: Two preregistered multilevel meta-analyses. Journal of Experimental Psychology: General, 153(6), 1464–1488. https://doi.org/10.1037/xge0001583








