Cara Menulis dengan Baik dan Benar Panduan Dasar untuk Penulis Pemula Visual

Cara Menulis dengan Baik dan Benar: Panduan Dasar untuk Penulis Pemula

Menulis merupakan keterampilan yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari menyusun tugas akademik, membuat laporan pekerjaan, menyampaikan gagasan, hingga menghasilkan artikel dan buku. Meskipun terlihat sederhana, menulis membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan merangkai kata menjadi kalimat. Seorang penulis perlu menentukan tujuan, mengembangkan gagasan, menyusun informasi secara logis, memilih bahasa yang tepat, serta memastikan bahwa tulisannya dapat dipahami oleh pembaca.

Kesulitan biasanya muncul ketika seseorang memiliki banyak ide, tetapi tidak tahu bagaimana memulainya. Ada pula yang mampu menulis dengan lancar, tetapi tulisannya berulang-ulang, sulit diikuti, atau kurang didukung informasi yang memadai. Persoalan seperti ini tidak selalu dapat diselesaikan dengan menambah kosakata. Sering kali, yang diperlukan adalah proses menulis yang lebih terstruktur.

Menulis dengan baik berarti menyampaikan gagasan secara jelas, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan pembaca. Menulis dengan benar berarti memperhatikan kaidah bahasa, ejaan, tata kalimat, dan ketepatan penggunaan kata. Kedua aspek tersebut saling melengkapi. Tulisan yang bebas dari kesalahan ejaan belum tentu mudah dipahami, sedangkan tulisan yang menarik tetap perlu disunting agar akurat dan tertib secara kebahasaan.

Bagi penulis pemula, pendekatan yang paling praktis adalah memecah kegiatan menulis menjadi beberapa tahap. Anda tidak harus menghasilkan tulisan sempurna dalam sekali duduk. Mulailah dengan merumuskan gagasan, menyusun kerangka, mengembangkan draf, kemudian memperbaikinya secara bertahap.

Langkah 1: Tentukan Tujuan dan Pembaca Tulisan

Sebelum menulis kalimat pertama, tentukan dua hal mendasar: apa yang ingin Anda capai dan siapa yang akan membaca tulisan tersebut.

Tujuan menulis dapat berbeda-beda. Anda mungkin ingin menjelaskan suatu konsep, menyampaikan pendapat, menceritakan pengalaman, memberikan petunjuk, atau meyakinkan pembaca mengenai sebuah gagasan. Setiap tujuan memerlukan pendekatan yang berbeda. Tulisan tutorial, misalnya, harus memberikan langkah yang dapat diikuti, sedangkan tulisan argumentatif perlu menghadirkan alasan dan bukti yang mendukung pendapatnya.

Pembaca juga menentukan cara Anda menyampaikan informasi. Penjelasan tentang manajemen keuangan untuk mahasiswa pemula tentu berbeda dari penjelasan untuk analis keuangan profesional. Keduanya membahas topik serupa, tetapi memiliki kebutuhan pengetahuan, istilah, dan tingkat kedalaman yang berbeda.

Untuk memulai, lengkapi rumusan sederhana berikut.

  • Tujuan saya menulis adalah ….
  • Pembaca utama tulisan ini adalah ….
  • Setelah membaca, pembaca diharapkan dapat memahami, mengetahui, atau melakukan ….

Sebagai contoh, Anda ingin menulis artikel mengenai pengelolaan waktu bagi mahasiswa. Tujuannya bukan sekadar membahas manajemen waktu secara umum, melainkan membantu mahasiswa memahami cara menyusun prioritas ketika harus membagi waktu antara kuliah, tugas, organisasi, dan istirahat.

Rumusan tujuan seperti ini membuat tulisan lebih terarah. Setiap bagian dapat dinilai berdasarkan kontribusinya terhadap kebutuhan pembaca.

Langkah 2: Persempit Topik dan Rumuskan Gagasan Utama

Salah satu kesalahan umum penulis pemula adalah memilih topik yang terlalu luas. Topik seperti pendidikan, kesehatan mental, kepemimpinan, atau teknologi dapat berkembang menjadi pembahasan yang sangat panjang. Tanpa pembatasan, penulis berisiko membahas terlalu banyak hal tanpa menjelaskan satu pun secara mendalam.

Cara mengatasinya adalah mempersempit topik berdasarkan masalah yang spesifik.

Misalnya, topik awal Anda adalah teknologi dalam pendidikan. Topik ini dapat dipersempit menjadi penggunaan aplikasi digital untuk mengorganisasi tugas mahasiswa. Dari sini, Anda dapat menentukan persoalan utama: bagaimana aplikasi tersebut membantu mahasiswa mencatat tenggat waktu dan menyusun prioritas kegiatan.

Setelah topik dipersempit, rumuskan gagasan utama dalam satu kalimat. Kalimat ini berfungsi sebagai kompas selama proses penulisan.

Contohnya:

“Mahasiswa dapat mengelola tugas secara lebih terstruktur dengan mengelompokkan pekerjaan berdasarkan tenggat waktu, tingkat kepentingan, dan perkiraan durasi pengerjaan.”

Rumusan tersebut lebih berguna daripada sekadar menyatakan bahwa manajemen waktu itu penting. Di dalamnya sudah terdapat gagasan yang dapat dijelaskan melalui alasan, ilustrasi, dan langkah praktis.

Gagasan utama tidak harus menjadi kalimat yang muncul secara persis dalam tulisan akhir. Namun, Anda perlu mengetahuinya agar pembahasan tidak menyimpang. Jika suatu paragraf tidak berhubungan dengan gagasan utama, pertimbangkan untuk menghapus atau memindahkannya.

Langkah 3: Kumpulkan Informasi dan Periksa Sumbernya

Tulisan yang baik tidak hanya bergantung pada kelancaran bahasa, tetapi juga pada mutu informasi yang digunakan. Sebelum mengembangkan pembahasan, kumpulkan bahan yang relevan dari buku, artikel ilmiah, laporan resmi, dokumen, wawancara, atau pengamatan langsung.

Gunakan sumber sesuai dengan kebutuhan tulisan. Artikel populer mengenai pengalaman pribadi mungkin tidak memerlukan jumlah referensi yang sama dengan artikel akademik. Namun, ketika menyampaikan klaim ilmiah, statistik, ketentuan hukum, atau informasi faktual yang dapat berubah, Anda perlu memastikan bahwa klaim tersebut didukung sumber yang sesuai.

Perhatikan tiga hal ketika mengumpulkan informasi. Pertama, apakah sumbernya dapat diidentifikasi dan diperiksa? Kedua, apakah isinya benar-benar mendukung pernyataan yang akan Anda tulis? Ketiga, apakah informasi tersebut masih relevan dengan konteks pembahasan?

Bedakan pula fakta, interpretasi, dan pendapat. Fakta dapat diperiksa berdasarkan bukti yang tersedia; interpretasi merupakan penjelasan atas fakta; sedangkan pendapat menyatakan penilaian atau posisi penulis. Ketiganya dapat muncul dalam satu tulisan, tetapi jangan menyajikan pendapat pribadi seolah-olah merupakan fakta yang telah terbukti.

Catat sumber sejak awal, terutama jika Anda akan menggunakan kutipan, data, atau gagasan dari penulis lain. Kebiasaan ini memudahkan pemeriksaan ulang dan mengurangi risiko kehilangan informasi bibliografis ketika tulisan selesai.

Langkah 4: Buat Kerangka Sebelum Mengembangkan Draf

Setelah gagasan utama dan bahan tulisan tersedia, susun kerangka. Kerangka membantu Anda menentukan urutan pembahasan sebelum menghabiskan waktu untuk menyusun kalimat secara terperinci.

Untuk artikel informatif sederhana, Anda dapat menggunakan struktur berikut.

Pembukaan. Perkenalkan masalah atau pertanyaan yang akan dibahas. Jelaskan mengapa topik tersebut relevan bagi pembaca dan apa yang akan diperoleh dari tulisan.

Pembahasan. Uraikan gagasan utama secara bertahap. Setiap bagian harus mempunyai fungsi yang jelas, misalnya menjelaskan konsep, memaparkan alasan, memberikan contoh, atau menyajikan langkah penyelesaian.

Penutup. Rangkum inti pembahasan atau tegaskan kesimpulan yang didukung oleh bagian sebelumnya. Penutup tidak harus memperkenalkan gagasan baru yang membutuhkan penjelasan panjang.

Sebagai contoh, kerangka artikel tentang pengelolaan tugas mahasiswa dapat dirancang sebagai berikut: masalah mengatur banyak tugas, manfaat pencatatan tenggat waktu, cara menentukan prioritas, contoh jadwal mingguan, dan cara mengevaluasi pelaksanaannya.

Susunan tersebut memberi alur yang dapat diikuti pembaca. Anda juga dapat mengetahui bagian mana yang memerlukan data, ilustrasi, atau penjelasan tambahan.

Kerangka tidak perlu kaku. Jika proses penulisan menghasilkan pemahaman baru, Anda boleh mengubah urutannya. Fungsi kerangka bukan membatasi kreativitas, melainkan membantu memastikan bahwa setiap bagian mempunyai hubungan yang logis.

Langkah 5: Kembangkan Paragraf dengan Satu Fokus Utama

Paragraf merupakan unit penting dalam organisasi tulisan. Purdue Online Writing Lab menjelaskan bahwa paragraf yang efektif memiliki kesatuan fokus, keterpaduan, gagasan utama, dan pengembangan yang memadai. Prinsip ini membantu pembaca memahami hubungan antara kalimat dan mengikuti alur pembahasan dengan lebih mudah (Purdue Online Writing Lab, n.d.-a).

Dalam praktiknya, satu paragraf sebaiknya berpusat pada satu gagasan utama. Gagasan tersebut dapat dijelaskan melalui alasan, fakta, contoh, perbandingan, atau konsekuensi yang relevan.

Perhatikan contoh berikut.

Contoh awal:

“Manajemen waktu sangat penting bagi mahasiswa. Banyak mahasiswa memiliki berbagai kegiatan. Teknologi juga berkembang pesat. Oleh karena itu, mahasiswa perlu belajar mengatur waktu agar menjadi lebih baik.”

Paragraf tersebut tidak sepenuhnya salah secara tata bahasa, tetapi pembahasannya masih umum. Hubungan antara perkembangan teknologi dan kebutuhan mengelola waktu juga belum dijelaskan.

Contoh perbaikan:

“Mahasiswa perlu mengatur waktu secara terencana ketika harus menyelesaikan beberapa tugas dengan tenggat yang berdekatan. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah mencatat semua tenggat dalam satu kalender, kemudian mengurutkan pekerjaan berdasarkan urgensi dan perkiraan waktu pengerjaan. Dengan cara ini, mahasiswa dapat mengenali pekerjaan yang harus diselesaikan lebih dahulu dan mengurangi risiko melupakan tugas penting.”

Paragraf hasil perbaikan memiliki fokus yang lebih jelas. Kalimat pertama menyatakan masalah, kalimat berikutnya memberikan metode, dan kalimat terakhir menjelaskan manfaat praktisnya.

Anda dapat menggunakan pola sederhana ketika mengembangkan paragraf: gagasan utama, penjelasan, bukti atau contoh, dan hubungan dengan pembahasan berikutnya. Tidak semua paragraf harus mengikuti urutan tersebut secara kaku, tetapi pola ini membantu penulis pemula mengembangkan gagasan secara memadai.

Periksa setiap paragraf dengan satu pertanyaan: jika paragraf ini diringkas menjadi satu kalimat, apa inti pesannya? Apabila jawabannya sulit dirumuskan, paragraf tersebut mungkin memuat terlalu banyak gagasan atau belum mempunyai fokus yang jelas.

Langkah 6: Gunakan Kalimat yang Jelas, Efisien, dan Alami

Kalimat yang baik tidak harus panjang atau menggunakan istilah yang rumit. Ukurannya adalah apakah pembaca dapat memahami maksud penulis dengan tepat.

Salah satu masalah yang sering muncul dalam tulisan pemula adalah penggunaan kata secara berlebihan. Penulis terkadang menganggap bahwa kalimat yang panjang terdengar lebih akademis atau profesional, padahal panjang kalimat tidak otomatis menunjukkan kedalaman pemikiran.

Pertimbangkan contoh berikut.

Sebelum: “Dalam rangka untuk melakukan peningkatan terhadap kemampuan menulis, seorang penulis perlu melakukan kegiatan membaca secara rutin.”

Sesudah: “Untuk meningkatkan kemampuan menulis, seorang penulis perlu membaca secara rutin.”

Versi kedua menyampaikan gagasan yang sama dengan lebih ringkas. Ungkapan yang berulang, seperti “dalam rangka untuk” atau “melakukan kegiatan membaca”, dapat disederhanakan selama makna tidak berubah.

Perhatikan pula penggunaan kata kerja yang langsung menunjukkan tindakan. Bandingkan “melakukan evaluasi terhadap hasil tulisan” dengan “mengevaluasi hasil tulisan”. Bentuk kedua biasanya lebih efisien.

Namun, kalimat pendek bukan selalu pilihan terbaik. Penjelasan tentang konsep yang kompleks terkadang membutuhkan kalimat lebih panjang, asalkan hubungan antargagasannya tetap jelas. Variasikan panjang kalimat sesuai dengan kebutuhan penjelasan dan ritme bacaan.

Hindari juga istilah teknis yang tidak diperlukan. Jika suatu istilah penting bagi pembahasan, jelaskan artinya saat pertama kali digunakan. Prinsipnya sederhana: jangan membuat pembaca bekerja lebih keras daripada yang dibutuhkan untuk memahami isi tulisan.

Langkah 7: Periksa Ejaan, Pilihan Kata, dan Tata Bahasa

Setelah substansi dan struktur tulisan terbentuk, periksa ketepatan bahasa. Untuk penulisan bahasa Indonesia, Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi Kelima (EYD V) merupakan pedoman resmi yang mencakup penggunaan huruf, penulisan kata, tanda baca, dan unsur serapan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2022).

Beberapa hal berikut patut diperhatikan oleh penulis pemula.

Kata depan di dan imbuhan di-. Kata depan ditulis terpisah, sedangkan imbuhan pasif ditulis serangkai. Contohnya, “di rumah” dan “di kantor” menggunakan kata depan, sementara “ditulis” dan “dibaca” menggunakan imbuhan. Membaca ulang tulisan dengan memperhatikan perbedaan ini dapat membantu menemukan kesalahan yang sering terlewat.

Huruf kapital. Gunakan huruf kapital pada awal kalimat dan pada unsur nama diri sesuai kaidah. Dalam judul artikel, perhatikan aturan kapitalisasi EYD V, termasuk penulisan kata tugas yang tidak berada di awal judul.

Tanda baca. Tanda koma, titik, titik dua, tanda petik, dan tanda baca lainnya harus mendukung kejelasan struktur kalimat. Jangan menggunakan koma hanya karena terasa perlu mengambil jeda ketika membaca. Periksa fungsi tanda baca berdasarkan struktur kalimat dan pedoman yang berlaku.

Pilihan kata. Gunakan kata yang tepat sesuai konteks dan makna yang dimaksud. Jika ragu terhadap bentuk baku atau arti sebuah kata, periksa Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (KBBI Daring) yang dikelola Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Konsistensi istilah. Jika Anda menggunakan istilah tertentu untuk menjelaskan sebuah konsep, pertahankan penggunaannya secara konsisten. Pergantian istilah tanpa alasan dapat membuat pembaca mengira bahwa Anda sedang memperkenalkan konsep yang berbeda.

Pemeriksaan bahasa sebaiknya tidak dilakukan hanya dengan mengandalkan fitur pemeriksa ejaan otomatis. Perangkat tersebut berguna untuk menemukan sebagian kesalahan, tetapi belum tentu dapat menilai ketepatan makna, logika kalimat, atau kesesuaian istilah dengan konteks.

Langkah 8: Revisi Isi Sebelum Mengoreksi Detail Bahasa

Banyak penulis pemula menganggap bahwa revisi hanya berarti memperbaiki salah ketik, mengganti kata, atau membenahi tanda baca. Padahal, revisi juga mencakup pemeriksaan gagasan, struktur, urutan pembahasan, dan kecukupan bukti.

Purdue Online Writing Lab membedakan berbagai aspek revisi dengan menekankan perlunya memeriksa gagasan utama, tujuan, pembaca, bukti, relevansi informasi, dan kejelasan bahasa. Membaca ulang dengan perspektif pembaca membantu penulis mengenali kelemahan yang mungkin tidak terlihat ketika masih sibuk menyusun draf (Purdue Online Writing Lab, n.d.-b).

Lakukan revisi dalam dua putaran.

Putaran pertama: revisi substansi. Periksa apakah tulisan benar-benar menjawab tujuan awal. Evaluasi urutan gagasan, kecukupan penjelasan, ketepatan informasi, hubungan antarparagraf, serta bagian yang menyimpang dari pokok pembahasan. Jika satu bagian perlu dipindahkan atau dihapus, lakukan perubahan pada tahap ini.

Putaran kedua: penyuntingan bahasa. Setelah substansi lebih stabil, periksa struktur kalimat, pilihan kata, tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan konsistensi penulisan. Pada tahap ini, fokuskan perhatian pada ketepatan dan keterbacaan.

Jika memungkinkan, beri jeda sebelum membaca ulang draf. Jarak waktu membantu Anda melihat tulisan dengan lebih objektif. Membaca teks dengan suara pelan juga dapat membantu menemukan kalimat yang terlalu panjang, hubungan gagasan yang kurang jelas, atau pengulangan yang tidak diperlukan.

Jangan mempertahankan kalimat hanya karena Anda menyukai cara merangkainya. Ukurannya bukan seberapa sulit kalimat itu dibuat, melainkan seberapa baik kalimat tersebut menjalankan fungsinya.

Latihan Praktis: Menulis Satu Paragraf dalam 20 Menit

Untuk menerapkan langkah-langkah di atas, pilih satu topik sederhana yang Anda kenal, misalnya manfaat membaca, pengelolaan waktu, penggunaan teknologi, atau pentingnya komunikasi di tempat kerja.

Luangkan lima menit untuk menentukan tujuan, pembaca, dan gagasan utama. Pada lima menit berikutnya, susun tiga poin yang akan mendukung gagasan tersebut. Gunakan sepuluh menit terakhir untuk menulis satu paragraf yang terdiri atas beberapa kalimat saling berkaitan, lalu periksa kembali hasilnya.

Gunakan pertanyaan berikut untuk mengevaluasi tulisan Anda:

  • Apakah paragraf mempunyai satu gagasan utama yang dapat dijelaskan dengan jelas?
  • Apakah setiap kalimat berkontribusi terhadap gagasan tersebut?
  • Apakah contoh atau penjelasan yang diberikan cukup untuk membantu pembaca memahami maksudnya?
  • Apakah ada kata, frasa, atau kalimat yang dapat dihilangkan tanpa mengurangi makna?
  • Apakah ejaan, pilihan kata, dan tanda baca telah diperiksa?

Latihan ini tidak bertujuan menghasilkan tulisan yang sempurna dalam 20 menit. Tujuannya adalah membangun kebiasaan menulis melalui tahapan yang dapat diulang dan dievaluasi. Setelah keterampilan menyusun paragraf berkembang, Anda dapat memperluas latihan menjadi beberapa paragraf, artikel pendek, laporan, atau naskah yang lebih panjang.

Daftar Periksa Sebelum Tulisan Dipublikasikan

Sebelum menyerahkan atau memublikasikan tulisan, lakukan pemeriksaan akhir dengan daftar berikut.

Tujuan dan isi: tujuan tulisan jelas, topik tidak terlalu luas, dan gagasan utama dijelaskan secara memadai.

Struktur: pembukaan mengarahkan pembaca pada masalah, pembahasan tersusun secara logis, dan penutup sesuai dengan isi tulisan.

Paragraf dan kalimat: setiap paragraf mempunyai fokus, hubungan antargagasan mudah diikuti, dan kalimat tidak bertele-tele.

Ketepatan informasi: fakta, data, kutipan, dan referensi telah diperiksa; pendapat dibedakan dari fakta; sumber dicantumkan sesuai kebutuhan.

Bahasa: pilihan kata tepat, istilah konsisten, dan ejaan serta tanda baca telah diperiksa menggunakan EYD V dan KBBI Daring ketika diperlukan.

Keterbacaan: tulisan telah dibaca ulang dari sudut pandang pembaca, bagian yang membingungkan telah diperbaiki, dan tidak ada pengulangan yang mengganggu.

Menulis adalah Proses yang Dapat Dilatih

Kemampuan menulis berkembang melalui praktik yang disertai evaluasi. Penulis yang baik tidak selalu menghasilkan draf pertama yang sempurna. Mereka belajar mengenali kelemahan tulisan, memperbaiki struktur, memeriksa informasi, dan memilih cara penyampaian yang lebih tepat bagi pembaca.

Bagi pemula, hal terpenting bukan menunggu sampai semua kata terasa sempurna sebelum mulai menulis. Mulailah dengan tujuan yang jelas, susun gagasan utama, kembangkan paragraf secara logis, kemudian revisi dan sunting tulisan secara bertahap.

Disiplin menjalankan proses tersebut membantu Anda meningkatkan kualitas tulisan dari waktu ke waktu. Semakin sering menulis dan mengevaluasi hasilnya, semakin baik kemampuan Anda dalam menyampaikan gagasan secara jelas, efektif, dan bertanggung jawab.

Untuk memperdalam keterampilan tersebut, jelajahi artikel-artikel Enigma Group Indonesia mengenai teknik menulis, pengembangan naskah, penyuntingan, literasi, dan proses penerbitan.

Referensi

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2022). Ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD), edisi kelima. https://ejaan.kemendikdasmen.go.id/

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (n.d.). KBBI Daring. https://kbbi.kemdikbud.go.id/

Purdue Online Writing Lab. (n.d.-a). On paragraphs. Purdue University. https://owl.purdue.edu/owl/general_writing/academic_writing/paragraphs_and_paragraphing/index.html

Purdue Online Writing Lab. (n.d.-b). Steps for revising your paper. Purdue University. https://owl.purdue.edu/owl/general_writing/the_writing_process/proofreading/steps_for_revising.html

Scroll to Top