Sebuah artikel dapat dimulai dengan pembukaan yang menarik, mengembangkan gagasan secara runtut, dan menyajikan informasi yang berguna. Namun, apabila bagian akhirnya hanya mengulang judul atau menyebutkan kembali semua hal yang telah dibahas, pembaca mungkin tidak memperoleh pemahaman tambahan yang membuat tulisan terasa selesai.
Penutup memiliki fungsi lebih penting daripada sekadar menandai berakhirnya artikel. Bagian ini membantu pembaca memahami makna utama pembahasan, melihat relevansinya, dan menentukan pesan apa yang perlu dibawa setelah selesai membaca. Penutup yang efektif tidak harus panjang atau dramatis. Yang diperlukan adalah kejelasan mengenai hal terpenting yang ingin ditinggalkan penulis kepada pembaca.
Harvard College Writing Center (n.d.) menjelaskan bahwa penutup yang baik dapat menghubungkan kembali argumen utama dengan persoalan yang lebih luas, menjelaskan mengapa argumen itu penting, serta menunjukkan apa yang dapat dipahami atau dipertimbangkan pembaca setelah membaca tulisan. Panduan tersebut juga mengingatkan bahwa penutup tidak perlu mengulang seluruh isi tulisan secara lengkap.
Prinsip ini relevan bagi penulisan artikel website, blog, opini, maupun artikel edukatif. Penutup yang kuat bukan daftar ringkasan dari setiap subjudul, melainkan bagian yang menyatukan pembahasan dan memperjelas nilai keseluruhan tulisan.
Memahami Fungsi Penutup Artikel
Sebelum menulis paragraf terakhir, pahami terlebih dahulu tugas yang perlu diselesaikannya. Secara umum, penutup artikel memiliki tiga fungsi yang saling berkaitan.
Pertama, penutup menegaskan kembali gagasan utama. Setelah membaca seluruh artikel, pembaca perlu memahami pesan inti yang didukung oleh pembahasan sebelumnya. Penegasan tersebut tidak harus menggunakan kalimat yang sama dengan pembukaan atau tesis di bagian awal.
Kedua, penutup menjelaskan signifikansi. Pembaca perlu memahami mengapa informasi yang telah dibaca penting, bagaimana gagasan tersebut berkaitan dengan persoalan yang lebih luas, atau apa implikasinya bagi kehidupan dan pekerjaan mereka.
Ketiga, penutup memberikan rasa selesai. Artikel tidak seharusnya berhenti secara mendadak, meninggalkan persoalan utama tanpa jawaban, atau terus menambahkan pembahasan baru setelah argumen pokok selesai dikembangkan.
University of California, Davis Writing Center (n.d.) juga menekankan bahwa penutup dapat memperkuat gagasan utama, mengarahkan perhatian pada implikasi, atau mengajak pembaca mempertimbangkan tindakan tertentu. Strategi yang dipilih perlu menyesuaikan tujuan dan karakter tulisan.
Tidak semua artikel membutuhkan ajakan bertindak. Artikel tutorial mungkin perlu mengarahkan pembaca untuk mencoba suatu teknik, sedangkan artikel reflektif dapat berakhir dengan pemahaman yang lebih luas. Artikel berbasis penelitian juga dapat menyoroti implikasi atau keterbatasan temuan, sesuai tujuan publikasinya.
Dengan demikian, langkah pertama bukan mencari kalimat penutup yang terdengar indah, melainkan menetapkan fungsi yang harus dipenuhi oleh bagian akhir artikel.
Bedakan Ringkasan, Sintesis, dan Penegasan Makna
Salah satu penyebab penutup terasa berulang adalah karena penulis menganggap bahwa seluruh isi artikel harus dirangkum kembali. Padahal, ada perbedaan antara mengulang informasi, menyatukan gagasan, dan menjelaskan maknanya.
Ringkasan menyebutkan kembali informasi utama yang telah disampaikan. Ringkasan dapat berguna untuk tulisan yang panjang atau kompleks, tetapi tidak selalu diperlukan dalam artikel pendek.
Sintesis menghubungkan beberapa gagasan agar pembaca melihat hubungan yang lebih utuh. Penulis tidak sekadar menyebutkan bahwa artikel telah membahas beberapa hal, melainkan menjelaskan bagaimana hal-hal tersebut saling mendukung untuk menghasilkan pemahaman tertentu.
Penegasan makna menunjukkan mengapa gagasan utama layak diperhatikan. Bagian ini menjawab pertanyaan: setelah memahami pembahasan tersebut, apa yang seharusnya menjadi lebih jelas bagi pembaca?
Perhatikan contoh berikut untuk artikel tentang pentingnya penyuntingan buku.
Penutup yang terlalu merangkum:
Artikel ini telah membahas penyuntingan substantif, copy editing, proofreading, dan pentingnya memeriksa kesalahan dalam naskah. Semua tahapan tersebut perlu dilakukan agar buku menjadi lebih baik.
Kalimat tersebut menyebutkan kembali materi yang dibahas, tetapi belum menjelaskan hubungan antartahap atau alasan keseluruhannya penting.
Penutup yang lebih kuat:
Penyuntingan buku yang efektif tidak bergantung pada satu pemeriksaan akhir, melainkan pada kesesuaian setiap tahap dengan masalah yang ingin diselesaikan. Ketika struktur, kejelasan bahasa, konsistensi, dan ketepatan penyajian diperiksa pada tahap yang tepat, penerbit memiliki dasar yang lebih kuat untuk menghasilkan buku yang mudah dipahami dan dapat dipertanggungjawabkan.
Versi kedua tidak mengulang daftar pembahasan secara mekanis. Kalimatnya menyatukan gagasan dan menjelaskan implikasinya terhadap mutu buku.
Inilah prinsip yang perlu diingat: penutup tidak harus mengulang semua yang telah disampaikan, tetapi perlu memperjelas apa arti keseluruhan pembahasan tersebut.
Langkah Pertama: Temukan Satu Pesan Utama
Setelah menyelesaikan draf artikel, baca kembali isi tulisan dan rumuskan satu kalimat yang menjawab pertanyaan: apa pesan paling penting yang harus dipahami pembaca?
Jangan langsung menyalin judul atau kalimat pertama artikel. Cobalah mengidentifikasi kesimpulan yang benar-benar didukung oleh pembahasan.
Misalnya, sebuah artikel membahas cara menentukan target pembaca sebelum menulis buku. Pokok pembahasannya mungkin mencakup kebutuhan pembaca, tingkat pengetahuan, masalah yang ingin diselesaikan, dan cara melakukan riset audiens.
Pesan utamanya bukan sekadar bahwa penulis perlu memahami pembaca. Gagasan yang lebih menyeluruh adalah bahwa pemahaman terhadap pembaca membantu penulis membuat keputusan yang konsisten mengenai cakupan, bahasa, struktur, dan posisi buku.
Kalimat inti seperti ini akan membantu Anda menghindari penutup yang sekadar mengulang daftar langkah.
Untuk melatihnya, gunakan rumusan sederhana berikut:
Setelah membaca artikel ini, pembaca seharusnya memahami bahwa …
Lengkapi kalimat tersebut tanpa menyebutkan seluruh subjudul. Jika Anda kesulitan merumuskan satu pesan inti, mungkin artikel masih memiliki beberapa gagasan yang belum terhubung dengan baik. Dalam kondisi itu, perbaiki struktur atau fokus pembahasan terlebih dahulu sebelum menyempurnakan penutup.
Langkah Kedua: Jawab Pertanyaan “Mengapa Ini Penting?”
Pesan utama akan lebih bermakna ketika penulis menjelaskan signifikansinya. Tanyakan mengapa pembaca perlu memperhatikan gagasan tersebut dan apa konsekuensinya jika mereka memahami atau menerapkannya.
Misalnya, artikel menjelaskan teknik menulis kalimat yang efektif. Penutup yang hanya menyatakan bahwa kalimat harus singkat, jelas, dan tepat masih terbatas pada pengulangan prinsip. Anda dapat melangkah lebih jauh dengan menjelaskan bahwa kejelasan kalimat mengurangi kemungkinan salah tafsir dan membantu pembaca memahami informasi tanpa harus berulang kali menebak maksud penulis.
Pertanyaan “mengapa ini penting?” tidak harus menghasilkan pernyataan yang besar. Implikasi yang sederhana tetapi relevan sering kali lebih kuat daripada klaim yang terlalu luas.
Dalam artikel kesehatan, penutup dapat menegaskan pentingnya memahami informasi sebelum mengambil keputusan. Dalam artikel bisnis, penutup dapat menunjukkan konsekuensi praktis dari strategi yang dibahas. Dalam artikel literasi, penutup dapat menjelaskan bagaimana keterampilan tertentu digunakan dalam kegiatan sehari-hari.
Harvard College Writing Center (n.d.) menyarankan penulis untuk menghubungkan kembali argumen dengan persoalan yang membuatnya penting. Pendekatan ini membantu pembaca melihat nilai pembahasan secara lebih utuh, bukan hanya mengingat fakta-fakta yang disajikan.
Namun, pastikan implikasi yang ditarik sesuai dengan isi artikel. Jangan menyatakan bahwa satu teknik akan menyelesaikan semua persoalan atau menghasilkan manfaat yang pasti apabila pembahasan tidak mendukung klaim tersebut.
Langkah Ketiga: Pilih Cara Mengakhiri Artikel yang Sesuai
Setelah pesan utama dan signifikansinya jelas, tentukan bentuk penutup yang paling sesuai. Tidak semua artikel memerlukan teknik yang sama.
Mengakhiri dengan penegasan gagasan utama
Teknik ini cocok untuk artikel informatif, opini, dan penjelasan konseptual. Penulis mengakhiri artikel dengan menegaskan kembali gagasan utama melalui formulasi yang lebih tajam daripada kalimat pembuka.
Contohnya, artikel tentang budaya literasi dapat ditutup dengan:
Budaya literasi tumbuh ketika membaca, menulis, dan menggunakan informasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, didukung oleh lingkungan yang memberi masyarakat akses serta kesempatan untuk belajar.
Kalimat ini tidak perlu mengulang semua bagian mengenai keluarga, sekolah, perpustakaan, dan komunitas. Ia menyatukan pembahasan menjadi satu kesimpulan yang dapat dipahami.
Mengakhiri dengan implikasi atau konsekuensi
Pendekatan ini cocok ketika artikel menjelaskan sebuah masalah, konsep, atau strategi yang mempunyai dampak praktis.
Misalnya, artikel mengenai transparansi penerbitan dapat diakhiri dengan penjelasan bahwa kejelasan kontrak membantu penulis dan penerbit membuat keputusan berdasarkan pemahaman yang sama, sehingga mengurangi risiko kesalahpahaman yang dapat dihindari.
Penutup semacam ini membantu pembaca melihat hubungan antara informasi dan konsekuensinya. Pastikan implikasi tersebut merupakan kelanjutan logis dari pembahasan, bukan klaim baru yang belum didukung.
Mengakhiri dengan rekomendasi atau ajakan bertindak
Artikel tutorial dan panduan praktis sering kali memperoleh manfaat dari penutup yang mengarahkan pembaca pada tindakan tertentu.
Contohnya:
Pada artikel berikutnya yang Anda tulis, rumuskan satu pesan utama sebelum menyusun paragraf penutup. Kemudian periksa apakah kalimat terakhir benar-benar memperjelas pesan tersebut atau hanya mengulang isi sebelumnya.
Ajakan ini spesifik, sesuai topik, dan dapat dilakukan pembaca.
Hindari ajakan yang terlalu umum seperti “jadilah lebih baik” atau “teruslah berkembang” apabila tidak menjelaskan tindakan yang relevan. Ajakan bertindak juga tidak wajib hadir dalam setiap artikel. Jika tidak ada tindakan yang secara alami mengikuti pembahasan, kesimpulan reflektif mungkin lebih tepat.
Mengakhiri dengan kembali pada pembukaan
Apabila artikel dimulai dengan ilustrasi, pertanyaan, atau persoalan tertentu, penutup dapat kembali kepada unsur tersebut dengan pemahaman yang lebih mendalam.
Misalnya, artikel tentang pengelolaan arus kas dimulai dengan ilustrasi pengusaha yang mengalami kekurangan uang meskipun penjualannya meningkat. Penutup dapat kembali pada situasi tersebut dengan menegaskan bahwa keberhasilan usaha tidak cukup dinilai dari jumlah penjualan; pengelolaan arus kas dan kewajiban pembayaran juga menentukan kemampuan operasional.
Teknik ini menciptakan hubungan antara awal dan akhir tulisan. Pembaca dapat melihat bagaimana penjelasan yang disajikan telah mengubah atau memperkaya pemahaman terhadap persoalan awal.
Mengakhiri dengan pertanyaan reflektif
Pertanyaan dapat menjadi penutup yang efektif ketika artikel memang bertujuan membuka ruang refleksi. Namun, pertanyaan tersebut harus mempunyai hubungan jelas dengan argumen utama.
Contohnya, artikel tentang kebiasaan membaca dapat berakhir dengan pertanyaan: Apakah bahan bacaan yang kita pilih hanya menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki, atau juga membantu kita memeriksa kembali asumsi sendiri?
Pertanyaan seperti ini mendorong pembaca mempertimbangkan gagasan yang dibahas. Sebaliknya, pertanyaan umum yang tidak memberikan arah, atau pertanyaan yang hanya mengulang judul, dapat membuat akhir artikel terasa kurang tajam.
University of California, Davis Writing Center (n.d.) mencantumkan pertanyaan reflektif, kutipan relevan, dan ajakan bertindak sebagai beberapa kemungkinan strategi penutup. Pilihannya tetap bergantung pada isi dan kebutuhan pembaca.
Langkah Keempat: Susun Penutup dalam Dua atau Tiga Gerakan
Untuk artikel website yang tidak terlalu panjang, penutup dapat dikembangkan melalui dua atau tiga gerakan sederhana. Ini bukan formula wajib, tetapi alat bantu untuk menjaga fokus.
Gerakan pertama menegaskan hasil pemahaman. Penulis menyatakan inti gagasan dengan cara yang sesuai dengan pembahasan yang telah dilakukan.
Gerakan kedua menjelaskan makna atau implikasi. Penulis menunjukkan mengapa gagasan tersebut penting, apa yang dapat dipahami pembaca secara berbeda, atau bagaimana prinsip itu dapat diterapkan.
Gerakan ketiga, jika diperlukan, memberikan ajakan, pertanyaan reflektif, atau kalimat akhir yang merangkum pesan utama secara berkesan.
Sebagai contoh, untuk artikel tentang pembukaan artikel yang efektif:
Pembukaan yang kuat membantu pembaca memahami topik dan alasan untuk melanjutkan membaca. Kekuatan tersebut tidak harus berasal dari kalimat yang dramatis, tetapi dari relevansi, kejelasan, dan hubungannya dengan kebutuhan pembaca. Sebelum menerbitkan artikel, periksa kembali apakah paragraf pembuka sudah menjanjikan pembahasan yang benar-benar dipenuhi oleh isi.
Tiga kalimat tersebut mempunyai fungsi yang berbeda. Kalimat pertama menegaskan pesan, kalimat kedua menjelaskan prinsip, dan kalimat ketiga memberikan tindakan praktis. Tidak ada kebutuhan untuk menyebutkan kembali setiap teknik pembukaan yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya.
Panjang penutup tetap harus disesuaikan dengan panjang dan kompleksitas artikel. Tulisan pendek mungkin hanya memerlukan satu paragraf ringkas, sedangkan artikel analitis yang lebih kompleks dapat membutuhkan beberapa paragraf untuk menyimpulkan implikasi dan batasan pembahasan.
Contoh Penyuntingan: Dari Penutup Berulang Menjadi Penutup yang Bermakna
Perhatikan contoh artikel tentang pentingnya menentukan target pembaca sebelum menulis buku.
Versi awal:
Dalam artikel ini kita telah membahas pentingnya menentukan target pembaca, mengenali kebutuhan mereka, memahami tingkat pengetahuan, melakukan riset audiens, serta menyesuaikan bahasa dan struktur buku. Semua hal tersebut penting agar penulis dapat membuat buku yang sesuai dengan pembaca.
Penutup ini tidak sepenuhnya salah. Namun, kalimat pertamanya mengulang isi artikel dalam bentuk daftar. Kalimat kedua hanya menyatakan bahwa hal-hal tersebut penting, tanpa memberikan pemahaman tambahan.
Versi perbaikan:
Memahami target pembaca membantu penulis membuat keputusan yang lebih terarah tentang apa yang perlu dijelaskan, seberapa mendalam pembahasan dikembangkan, dan bagaimana gagasan disampaikan. Karena itu, identifikasi pembaca bukan sekadar tahap perencanaan, melainkan dasar untuk menjaga relevansi buku dari awal hingga akhir.
Versi kedua menyatukan beberapa aspek dalam satu prinsip yang lebih luas. Kalimat akhirnya juga menunjukkan konsekuensi praktis dari pemahaman audiens, bukan sekadar mengulang daftar materi yang telah dibahas.
Untuk melatih kemampuan tersebut, lakukan latihan berikut. Ambil satu artikel yang telah selesai ditulis. Buatlah penutup pertama dalam bentuk ringkasan isi. Kemudian tulis ulang penutup itu dengan menjawab dua pertanyaan: apa kesimpulan paling penting dari seluruh pembahasan, dan mengapa kesimpulan itu perlu diperhatikan pembaca?
Bandingkan kedua versi. Pertahankan informasi yang benar-benar diperlukan, hapus rincian yang sudah dijelaskan dengan baik pada bagian isi, lalu kuatkan hubungan antara kesimpulan dan makna artikel.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Ketika Menulis Penutup
Kesalahan pertama adalah merangkum setiap subjudul secara berurutan. Teknik ini dapat membuat paragraf penutup terasa seperti daftar isi dalam bentuk kalimat. Gunakan sintesis untuk memperlihatkan hubungan antargagasan, dan rangkum hanya bagian yang memang dibutuhkan agar pembaca memahami kesimpulan.
Kesalahan kedua adalah mengulangi kalimat pembuka secara persis. Penutup boleh kembali pada gagasan awal, tetapi sebaiknya menunjukkan bahwa pemahaman tersebut kini telah berkembang setelah pembaca mengikuti seluruh pembahasan.
Kesalahan ketiga adalah memasukkan gagasan baru yang memerlukan penjelasan panjang. Jika pada akhir artikel muncul konsep, bukti, atau argumen penting yang belum pernah dibahas, pembaca mungkin membutuhkan bagian baru untuk memahaminya. Tempatkan materi tersebut di bagian isi, kemudian revisi penutup agar berfokus pada kesimpulan yang benar-benar didukung oleh artikel.
Kesalahan keempat adalah menggunakan ungkapan generik sebagai pengganti kesimpulan. Frasa seperti “demikian artikel ini dibuat” atau “semoga artikel ini bermanfaat” dapat digunakan dalam konteks tertentu, tetapi tidak dengan sendirinya memberikan nilai intelektual. Penutup perlu menyampaikan pesan yang lebih spesifik daripada sekadar menyatakan bahwa tulisan telah selesai.
Kesalahan kelima adalah berusaha terlalu keras menciptakan kalimat terakhir yang dramatis. Metafora atau pernyataan kuat dapat digunakan apabila sesuai dengan isi, tetapi tidak perlu dipaksakan. Penutup yang sederhana dan tepat sering kali lebih meyakinkan daripada kalimat bombastis yang tidak mencerminkan pembahasan.
Kesalahan keenam adalah menambahkan banyak ajakan bertindak sekaligus. Meminta pembaca berlangganan, membagikan artikel, membeli produk, mengikuti media sosial, dan membaca lima artikel lain dapat mengalihkan perhatian dari pesan utama. Jika ajakan diperlukan, pilih satu tindakan yang paling relevan dengan tujuan tulisan.
Harvard College Writing Center (n.d.) mengingatkan agar penulis tidak mengulang keseluruhan isi dan tidak menambahkan argumen tandingan yang substansial pada bagian akhir. University of California, Davis Writing Center (n.d.) juga menekankan bahwa penutup sebaiknya menguatkan gagasan utama tanpa memperkenalkan argumen atau bukti baru yang semestinya dibahas dalam isi.
Checklist untuk Memeriksa Penutup Artikel
Sebelum menerbitkan artikel, periksa bagian penutup dengan pertanyaan berikut:
- Apakah penutup menegaskan satu pesan utama yang didukung isi artikel?
- Apakah pembaca dapat memahami mengapa gagasan tersebut penting?
- Apakah penutup menyatukan pembahasan, bukan hanya menyebutkan kembali subjudul?
- Apakah setiap kalimat memberikan fungsi yang jelas?
- Apakah terdapat informasi baru yang seharusnya dijelaskan pada bagian isi?
- Apakah penutup sesuai dengan tujuan artikel dan kebutuhan pembaca?
- Apakah ajakan bertindak, jika ada, relevan dan realistis?
- Apakah kalimat terakhir meninggalkan pemahaman yang jelas tanpa dramatisasi berlebihan?
Jika penutup masih terasa lemah, jangan langsung menambahkan kalimat yang lebih panjang. Coba hapus satu atau dua kalimat yang hanya mengulang pembahasan, lalu rumuskan kembali inti pesan dan implikasinya. Penutup yang kuat sering kali diperoleh melalui pengurangan dan penajaman, bukan penambahan.
Penutup yang Baik Membuat Artikel Terasa Selesai
Menulis penutup artikel membutuhkan kemampuan memilih apa yang perlu dipertahankan dari seluruh pembahasan dan apa yang tidak lagi perlu diulang. Penulis perlu menegaskan pesan utama, menjelaskan signifikansinya, dan memberikan akhir yang sesuai dengan tujuan tulisan.
Ringkasan singkat tetap dapat berguna untuk artikel panjang atau kompleks. Namun, ringkasan sebaiknya menjadi jembatan menuju kesimpulan yang lebih bermakna, bukan menjadi satu-satunya pekerjaan penutup. Penulis dapat memilih penegasan gagasan, penjelasan implikasi, ajakan bertindak, pertanyaan reflektif, atau hubungan kembali dengan pembukaan sesuai kebutuhan artikel.
Langkah praktisnya adalah merumuskan satu pesan inti, menjawab pertanyaan “mengapa ini penting?”, memilih bentuk akhir yang sesuai, dan menghapus pengulangan yang tidak menambah pemahaman. Setelah itu, baca kembali paragraf terakhir untuk memastikan bahwa kalimat-kalimatnya menghasilkan rasa selesai yang wajar.
Pada akhirnya, penutup yang efektif bukan bagian yang berusaha mengatakan semuanya sekali lagi. Penutup adalah bagian yang membantu pembaca memahami apa yang paling penting dari seluruh pembahasan dan mengapa hal tersebut layak diingat.
Jangan gunakan paragraf terakhir untuk mengulang perjalanan yang baru saja dilalui pembaca. Gunakan bagian itu untuk memperjelas makna perjalanan tersebut.
Jelajahi artikel-artikel Penerbit Enigma Group Indonesia tentang buku, penulisan, penerbitan, dan pengembangan literasi untuk memperluas wawasan Anda.
Referensi
Harvard College Writing Center. (n.d.). Conclusions. Harvard University. https://writingcenter.fas.harvard.edu/conclusions
University of California, Davis Writing Center. (n.d.). Conclusions quick guide. https://writingcenter.ucdavis.edu/writing-resources/conclusions-quick-guide
University of Wisconsin–Madison Writing Center. (n.d.). Make your last words count. https://writing.wisc.edu/handbook/processandstructure/conclusions/








